Langsung ke konten utama

Jingga Sore Sebentar Lagi Mendatangkan Rindu (Part2)-(Kutukan Sang Pencipta)

Writer:Haerul Syam KP


Kutukan Sang Pencipta

Matahari kini mulai terbit dan terlihat indah di ufuk timur, berpancarkan cahaya tenang gemerlap mengelilingi sudut kota di ibu kota, tentunya indah! Sungguh! Nyata adanya..
Memandangi cahaya cahaya penuh cinta seakan memaksa hati untuk terus berkata.

"ahhh mungkin saja dia tak melihat bayangan dari percikan jingga yang kian merona, ahh sudahlahh... Biarkan saja. "

         Seketika matahari pun kian meronta naik ke angkasa, hampir saja kudibuat buta akibatnya. sinarnya yang kian memanas membakar tubuh tak sadar aku dibuatnya..
Kini waktu telah menunjukkan Pukul 12:00 Wita dihari minggu yang penuh ketiadaan rasa..  matahari pun telah membuang warna cahaya indahnya.
Purnama pun beranjak dari tempat duduknya, dan melangkahkan kakinya untuk menuju rumahnya...
Ia, dia purnama.. sosok lelaki angkuh sombong yang selalu saja melafalkan dengan mulus akan janjinya kepada wanita. Namun janjinya terhenti ketika pertemuannya dengan sosok wanita muda nan indah Annisa, wanita berlian yang dimiliki oleh desa lumpur di surabaya. tepatnya 1 tahun yang lalu.
Purnama pun kini telah hidup berkeluarga, namun sayang jauh dari kata bahagia.. penyesalannya pun semakin meronta akan rindunya pada wanita yang dijumpainya didesa terakhirnya. seolah janjinya ingin dia lemparkan kepadanya.
Singkat cerita.......
         Setelah berkeluarga kurang lebih 1 tahun lamanya purnama pun tak pernah mendapatkan kebahagiaan yang semestinya. Mungkin ini adalah balasan dari apa yang dia lakukan semenjak ia masih muda, seringnya ia melontarkan janji janji manisnya kepada setiap wanita...
setelah berjalan cukup jauh dari baruga beralaskan kain koran yang tempatnya memandangi matahari indah disana Sampailah purnama dirumahnya sekitar pukul 12:30 wita.. ia pun bergegas membuka sepatunya, lalu mengetok pintunya.

"Tok..tok..tok.." Terkunci katanya.. tak ada suara juga.

"Dewi...., Dewi.. buka pintunya" .

ia Dewi namanya..  istrinya yg ia pilih ketika harus memilih diantara keduanya.. Dewi dan annisa dan ia memilih Dewi Jingga Permata untuk menemaninya hingga hari tua..
Setelah menunggu lama tak ada jawaban dan pintu tak terbuka.. purnama pun memilih beranjak kearah belakang rumahnya untuk melewati pintu yang berada di belakang sana. tidak terkunci, bergegaslah ia untuk membuka pintunya.

"Ssssssssttttttttt" terbukalahh..

        Tanpa basa-basi lagi iapun lansung masuk kedalam rumahnya, tak berpikir panjang seketika ia menuju dapurnya yang berukuran 2X3 untuk melafalkan kehausannya dengan menuangkan air dari gelasnya ke dalam rongga mulutnya.. iapun menikmatinya. Tegukan demi tegukan seakan memaksanya untuk terus mengalirkan air dari gelasnya. Sambil memegangi gelasnya iapun berkata

 "Alhamdulillah, Alhamdulillah atas kenikmatan yang telah kau berikan hari ini".

Setelah kehausan rongganya terobati dari keringnya panas sinar natahari diluar sana
Beranjaklah ia menuju kamarnya, guna mengganti pakaiannya yang sudah kian berubah baunya .

"Tak..Tik..Tak..Tik..Tak..Tik". Suara langkah kakinya menuju kamarnya.

Semakin mendekat ia dari pintu kamarnya.

Diarahkan tangannya guna membuka pintunya.

"Krekkkkkkkkk......" Terbukalahh... Pintunya.

Dan....
Seketika matanya melihat kesekeliling sudut sudut kamarnya guna merasakan apa yang salah. Tertujulah matanya kesatu titik dimana ranjangnya terlihat meronta agar disentuhnya..
Ia, istrinya terlihat tertidur pulas disiang hari.. ia pun berniat membangunkannya, seketika ia memegangi pundaknya, dan berkata

"Sudah siang.. Dewi bangun".

Tak ada jawaban tak ada gerakan..
Iapun berpikir bahwa mungkin saja dia letih akan kerjaanya .. namun tak berhenti disitu ia terus mencoba membangunkannya...
Ia kembali memegangi pundaknya dan menyebutkan namanya namun tak ada tanda tanda bahwa ia akan terbangun dari tidurnya.
Masih saja pikirannya mengakatan

" ahh mungkin dia keletihan, setelah banyaknya yang ia kerjakan.."

         Ia pun beranjak dari tempat tidur ranjangnya yang merona disiang hari, ia ambil handuknya, ia pun menuju kamar mandi yang hanya berdindingkan kain berwarna biru dibelakang rumahnya..
Mandilah dia, 30 menit ia menghabiskan waktunya untuk mengguyur air keseluruh tubuhnya...
Singkat cerita, setelah bergelut dengan air dingin sedingin hati tak bermakna ia pun kembali kekamarnya, mengganti pakaiannya memakai wangi-wangiannya..
Matanya tertuju kembali keranjangnya, namun apa daya gaya dan situasinya tetap saja sama. Ia masih tertidur pulas bagai kuda tak terkepang rambutnya. ia mencoba lagi membangunkannya. namun sama saja dengan sebelumnya.
Ia pun kini kembali mencoba mendekatinya, memeriksanya. Ada apa katanya.

"Ada yang salah, tapi dimana".

Diapun terus memeriksanya.. meluruskan kakinya, merentangkan kakinya selurus badannya, membalikkan badannya. Seketika setelah setengah badannya telah berbalik terlihat sesuatu yang aneh dari Dewi sang istri tercinta.
Wajahnya pucat, bibirnya kering, tubuhnya dingin.. iya, istri yang dipilihnya untuk menemani hidupnya hingga hari tua ternyata meninggal dunia diranjang yang penuh kisah. Tak tau penyebabnya,

"ada apa dengannya, mengapa" katanya.

Purnama pun hanya bisa terdiam tak berkata kata sembari memeluk istrinya.
Tak ada nafas memang, nadinya berhenti.

"Dosa apa yang telah kuperbuat tuhan, kenapa hal buruk terus saja menghapiri".

dengan menundukkan kepalanya , air matanya sesekali terjatuh dengan kencangnya.
Entah dosa apa yang dilakukan purnama hingga kehidupanya seolah olah tak ada kebahagian yang mencoba mendekatinya..
Dewi sang istri tercinta yang dipilihnya kini benar benar telah meninggalkannya selamanya.

"Segala sesuatu yang bernyawa telah Tuhan tetapkan batas waktunya, kupercaya surga untukmu" sambil memegangi tanah yang dibawahnya berisikan istrinya. ia pun berusaha menguatkan hatinya agar tak terlihat seperti boneka.

NOTE:
Terkadang kita tak memahami hal hal apa saja yang datang menhampiri. Kematian, kesedihan, kebahagian adalah sesuatu hal yang tak bisa ditawar lagi, semuanya telah ditetapkan garis langkahnya untuk bertemu dengannya. Gila memang, namun harus diakui bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus dipercaya bahwa itu akan kembali kepada diri kita.
Meninggalkan, bukan berarti benci.. namun adakalanya kita harus memilih tempat yang benar benar kuat akan kehidupan..
Bersedihlah, dan renungilah.. segala sesuatu yang telah diperbuat selama hidupmu. Perbaikilah selagi ada waktu yang tersisa.!
----------------------------------------------------------------
CP Wa atau Seluler +6289 5342 1502 41
Sosial Media:
IG @hrlsyam
FB Haerul Syam KP
LINE id:hrlsyam
---------------------------------------------------------
Jangan lupa tinggalkan komentar/saran
Untuk lebih memotivasi diri saya agar tetap menghasilkan tulisan tulisan penuh makna setiap harinya!
.
Something good need a long time


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertikaian Dengan Jarak & Waktu (December Rain)

                December Rain Hujan seketika berhenti untuk memberikan ruang kepada mtahari agar memancarkan kilauannya terhadap bumi. December Rain, mungkin harusnya memang seperti itu, dimana hari hari dipenuhi dengan hujan jatuh dari langit meskipun terkadang bercampur lumut perih dengan hujan berjatuhan dari mata. Kegilaan terhadap rasa dan ego tak mampu ditepiskan lagi agar salah satunya merasa sempurnah akan dirinya yang selalu menyambut hujan dengan air mata, ya mungkin dia dan hujan telah bersepakat agar tangisnya dan perih hatinya tak terasa jika hujan datang menyambut air matanya jatuh dari lingkaran matanya.  Sumpah, janji, dan amarah terhadap rasa seketika hancur dihadapannya. Kini semuanya tak bisa teratasi lagi, hujan menghancurkan segalanya. Mengalah untuk meninggalkan semuanya adalah sesuatu hal keterpaksaan akibat hujan dan air mata tak bisa dibendung lagi oleh bumi.  Semuanya diluar nalar dan pikirian, janji janji yang ...

Pertikaian Dengan Jarak Dan Waktu (Ditikam Dunia)

Oleh Haerul Syam KP                                          Ditikam Dunia             Masa kini kian berganti seiring bertambahnya usia, Bergejolak meminta apa yang kian terbengkala dimata manusia adalah sebuah peristiwa yang tak terasa. Hati, pikiran, perilaku, kian berubah atau apakah tetap sama dengan apa yang biasanya dirasa? Seringkali, kelalaian terhadap penciptanya semakin berdarah darah dengan kebutuhan didunia yang bergejolak agar rasa merona yang dirasa seakan memaksa untuk bersandiwara terhadapnya. Lalu, apakah dengan meminta restu terhadap dosa adalah jalan ketika usia telah berbaur dengan tanah yang berlumutan tanah?            Bukankah, itu adalah sebuah kesalahan dikala tuhan menginginkan sebuah percikan rindu disetiap ucapannya yang membara akibat hambanya? ...

Pertikaian Dengan Jarak & Waktu (Angin & Hujan)

                                Angin & Hujan Ninety Sixed Hour ago, Sebuah kalimat kalimat tak asing mulai terdengar ditelinga, mengharapkan sebuah keajaiban dimana hujan berhenti agar hati bisa bersedih. Terkalahkan oleh hujan dimalam hari, membuatnya begitu murka akan keadaannya yang tak bisa dipahami. Kemudian, seketika suara rintihan hujan mulai sedikit mengontrol emosi memberikan ruang terhadap siapa saja yang ingin menggantikan nya. Namun, nyatanya kehadiran hujan selalu tak dihargai akan kebenaran yang ada. Tak pernah disyukuri oleh siapa saja. Pada akhirnya angin mulai mengerti tentang hatinya yang terombang ambing oleh serpihan kepedihan yang diperolehnya dari siapa saja. Tiupan angin menghantarkan hujan memberikan kalimat yang berisikan "aku ingin dihargai" Katanya, Kemudian, burung burung hanya menyaksikan kepedihan yang hujan & angin hadapi. Tak ada sebuah pertikaian berarti namun penuh...