Langsung ke konten utama

Pertikaian Dengan Jarak & Waktu (Terkutuk)


TERKUTUK

         Disebuah sudut candu yang penuh dengan kesepian kini kembali hadir sebuah percikan hujan yang tak pernah membuatnya merasa nyaman akan keadaan. Seringkali hati dan pikiran selalu meminta agar bisa disatukan, namun apa daya teori dan kesempatan hanyalah sebuah ungkapan semata . Janji dan kata kini tak bisa lagi menjadi sebuah jaminan, Mungkin disebutnya iyalah kutukan! Terkutuk bagai batu nisan yang tak bisa memenangkan segala macam perasaan, selalu kalah, perih katanya! Mengiyakan segala inginnya, mengikuti segala harapannya, memberikan segala rasa pesona merdu tak terhingga kepada-nya, namun apa daya secuil tentang rasa dan kata tak bisa iya berikan.
Berjalan, berlari, merangkak kesana kemari Mencari sesuatu yang semestinya harus dia dapatkan dengan atas dasar inginnya yang tak henti hentinya meminta!
Segala macam bentuk lukisan telah iya singgahi untuk dipandangi, dipajangi, namun tak ada satupun yg bisa bertahan dengan sebuah gelombang peecikan air yang membuat luluh berantakan! Kemana? Dan kenapa? Lalu sebenarnya apa yang mesti kita lalukan agar dapat bersatu dan menyatu disuatu simpang jalan yang indah dipandangi dikala hujan datang?
Beribu rasa telah iya lewati, beribu bentuk telah iya singgahi, namun tak ada satupun yang bisa membuatnya bertahan dengan keadaan, mengapa? Bukankah dari sekian banyak bentuk semestinya satu diantaranya ada yang memegang erat rasamu? Hanya terdiam membisu tak ada suatu kata yang bisa diungkapkan olehnya.
Kemudian, percikan hujan kini kembali hadir membuat bising genteng genteng rumah para pujangga, namun ada yang berbeda. Hujan kini datang bersama angin yang begitu kuat akan gemparannya, tak ada celah untuk hujan berjalan lurus kearah sasaran, terlihat angin begitu sangar dibandingkan hujan yang begitu lemah akibat datangnya, mungkin saja mereka sedang bercumbu akan teori yang disampaikan tak pernah terasa benar dengan kesempatan yang begitu kuat ingin dirasanya! meninggalkan, berjalan, berlari, merangkak, adalah sebuah kegagalan yang membuatnya terus akan terkutuk bagai tupai tak bergigi!
Mengerikan, begitulah tuhan menyebutnya!
.
NOTE:
Seringkali ketidak syukuran itu begitu lekat dengan keadaan yang menghampiri. Tak ada sebuah kebahagiaan yang begitu lekat akibat ke-egoisan yang begitu terus menerus ingin didapatkannya. Lelah katanya, berjalan , merangkak kesana kemari, berlari tak henti.
Apa yang sebenarnya kalian cari? Bukankah bertahan dengan keadaan adalah sebuah keharusan untuk mensyukuri apa yang kalian inginnkan? Bukannya bergelut sepi dengan kutukan yang terjadi, bersyukurlah atas dasar apa yang kalian inginkan, apa yang sedang bersama kalian, apa yang sedang dirasakan!
Nikmati dan jalani
Tuhan seringkali menjanjikan kebahagian kepada mereka yang selalu kuat dan bertahan demi mendapatkan sebuah kesyukuran. Its true!!
.
(Gonta ganti , gonta ganti, gonta ganti! Namun ada yang tidak begitu wajar ketika sebuah rasa dan hati semestinya telah diterapkan dengan teori yang ada. Lukisan yang semestinya harus tetap terpajang dan dipandang agar orang orang lainnya tak dapat merasakan sebuah kenikmatan yang begitu sangar membuat hati dan pikiran menyatu!  kelam menikam bagai serigala tua tak bertuan! Begitulah Tuhan menyebutnya)
.
.

CP Wa atau Seluler +6289 5342 1502 41
Sosial Media:
IG @hrlsyam
FB Haerul Syam KP
LINE id:hrlsyam
---------------------------------------------------------
Jangan lupa tinggalkan komentar/saran
Untuk lebih memotivasi diri saya agar tetap menghasilkan tulisan tulisan penuh makna setiap harinya!
.
Something good need a long time










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertikaian Dengan Jarak & Waktu (December Rain)

                December Rain Hujan seketika berhenti untuk memberikan ruang kepada mtahari agar memancarkan kilauannya terhadap bumi. December Rain, mungkin harusnya memang seperti itu, dimana hari hari dipenuhi dengan hujan jatuh dari langit meskipun terkadang bercampur lumut perih dengan hujan berjatuhan dari mata. Kegilaan terhadap rasa dan ego tak mampu ditepiskan lagi agar salah satunya merasa sempurnah akan dirinya yang selalu menyambut hujan dengan air mata, ya mungkin dia dan hujan telah bersepakat agar tangisnya dan perih hatinya tak terasa jika hujan datang menyambut air matanya jatuh dari lingkaran matanya.  Sumpah, janji, dan amarah terhadap rasa seketika hancur dihadapannya. Kini semuanya tak bisa teratasi lagi, hujan menghancurkan segalanya. Mengalah untuk meninggalkan semuanya adalah sesuatu hal keterpaksaan akibat hujan dan air mata tak bisa dibendung lagi oleh bumi.  Semuanya diluar nalar dan pikirian, janji janji yang ...

Pertikaian Dengan Jarak Dan Waktu (Ditikam Dunia)

Oleh Haerul Syam KP                                          Ditikam Dunia             Masa kini kian berganti seiring bertambahnya usia, Bergejolak meminta apa yang kian terbengkala dimata manusia adalah sebuah peristiwa yang tak terasa. Hati, pikiran, perilaku, kian berubah atau apakah tetap sama dengan apa yang biasanya dirasa? Seringkali, kelalaian terhadap penciptanya semakin berdarah darah dengan kebutuhan didunia yang bergejolak agar rasa merona yang dirasa seakan memaksa untuk bersandiwara terhadapnya. Lalu, apakah dengan meminta restu terhadap dosa adalah jalan ketika usia telah berbaur dengan tanah yang berlumutan tanah?            Bukankah, itu adalah sebuah kesalahan dikala tuhan menginginkan sebuah percikan rindu disetiap ucapannya yang membara akibat hambanya? ...

Pertikaian Dengan Jarak & Waktu (Angin & Hujan)

                                Angin & Hujan Ninety Sixed Hour ago, Sebuah kalimat kalimat tak asing mulai terdengar ditelinga, mengharapkan sebuah keajaiban dimana hujan berhenti agar hati bisa bersedih. Terkalahkan oleh hujan dimalam hari, membuatnya begitu murka akan keadaannya yang tak bisa dipahami. Kemudian, seketika suara rintihan hujan mulai sedikit mengontrol emosi memberikan ruang terhadap siapa saja yang ingin menggantikan nya. Namun, nyatanya kehadiran hujan selalu tak dihargai akan kebenaran yang ada. Tak pernah disyukuri oleh siapa saja. Pada akhirnya angin mulai mengerti tentang hatinya yang terombang ambing oleh serpihan kepedihan yang diperolehnya dari siapa saja. Tiupan angin menghantarkan hujan memberikan kalimat yang berisikan "aku ingin dihargai" Katanya, Kemudian, burung burung hanya menyaksikan kepedihan yang hujan & angin hadapi. Tak ada sebuah pertikaian berarti namun penuh...